Sandwich Plat System


Sandwich Plat System (SPS) atau lapisan sistem baja  adalah bahan komposit struktural terdiri dari  baja dan elastomer poliuretan.
SPS digunakan dalam struktur rekayasa termasuk kapal, bangunan, stadion, arena dan jembatan dan diciptakan oleh Dr Stephen Kennedy mengikuti penelitian utamanya di bidang es memperkuat struktur di Carleton University di Ottawa dan pertama kali dipatenkan pada tahun 1996.
Teknologi SPS adalah pengganti langsung untuk baja kaku dan beton bertulang dalam proyek-proyek rekayasa berat.
Proyek pertama yang tercatat melibatkan SPS dilakukan pada Pride P & O dari Cherbourg, Register sebuah Lloyd menyetujui kapal, pada tahun 1999 dan lebih dari 200 proyek telah diselesaikan sampai saat ini.

Rubber Fender Dermaga

Rubber Fender ( Karet Fender)

Fungsi utama dari Rubber Fender (Karet Fender/ Rubber Loading Dock Bumper) adalah untuk mencegah kerusakan pada kapal atau dermaga selama Kapal berlabuh dari hentakan,kekerasan dan tekanan lambung kapal.
berbagai model dan aplikasi Rubber Fender  :


  • Rubber Fender type V - Arch Fender

Rubber Fender type V

  • Rubber Fender Cylinder - Karet Fender tipe Silinder



Rubber Fender type Cylinder

  • Rubber Fender type D - Karet Fender tipe D

Rubber Fender type D


  • Rubber Fender type Cell plus Frontal Frame - Karet Fender tipe Cell


  • Square Rubber Fender - Karet Fender tipe Square



Rubber Fender Square

  • Rubber Fender type M - Karet Fender tipe M



Rubber Fender type M


  • Rubber Fender type A - Karet Fender tipe A 

Rubber Fender Type AV

  • Rubber Fender type W - Karet Fender tipe W




Rubber Fender type W
dan juga accesories dermaga sebagai tambatan kapal - Bollard dengan berbagai model dan kapasitas.

Bollard


Jembatan Tayan Kalbar Rp 740 Miliar


Mempermudah akses penyeberangan, menghubungkan wilayah Piasak dan Teraju, Kementerian Pekerjaan Umum merealisasikan pembangunan Jembatan Tayan di Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau.

“Peresmian yang sekiranya akan dilakukan pada bulan Juni lalu, terhambat penandatanganan yang dilakukan dua negara, Indonesia dan Cina. Kontrak sudah disetujui, tinggal dilakukannya mekanisme pembayaran dari Cina ke Indonesia yang harus disetujui Menteri Keuangan (Menkeu),” kata Jakius Sinyor, Kepala Dinas PU Kalbar, Minggu (7/7).
Konsorsium yang terdiri dari China Road dan Bridge Corporation PT Wijaya Karya, rencananya akan membangun Jembatan Tayan dengan masa kerja selama 900 hari. Jembatan yang akan dibangun sepanjang 1.420 meter. “Proyek ini didanai melalui pinjaman dari Cina sebesar 90 persen dan APBN sebesar 10 persen. Pembangunan Jembatan Tayan ini menelan anggaran sekitar Rp 740 miliar,” ujar Jakius.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak mengatakan dibangunnya Jembatan Tayan sebagai bentuk perhatian pemerintah pusat di Kalbar. Apalagi Kalbar merupakan daerah aliran sungai dan laut, sehingga dibutuhkannya penghubung berupa jembatan. Pemerintah pusat juga telah menyetujui dan merealisasikan beberapa pembangunan di Kalbar. Beberapa pembangunan sedang menunggu proses penandatanganan persetujuan dari pemerintah pusat.
“Khusus untuk Kalbar, beberapa pembangunan sudah direalisasikan. Di antaranya Jalan Aruk yang menghubungkan beberapa kawasan di daerah utara Kalbar. Selain itu akses Jembatan Tayan sepanjang 1,5 km di Kabupaten Sanggau yang saat ini sedang menunggu proses penandatanganan persetujuan pembangunannya,” ungkap Hermanto saat menjawab pertanyaan Bupati Sanggau Setiman H Sudin dalam silaturahmi bersama Wapres dan Gubernur Kalbar Cornelis yang dihadiri bupati/walikota se-Kalbar di Pendopo belum lama ini.
Menurut Hermanto, khusus untuk Jembatan Tayan, belum diketahui kapan pelaksanaan peresmian pembangunannya. Karena proyek tersebut merupakan program pemerintah pusat melalui Dinas PU Kalbar yang bekerja sama dengan Cina.
“Untuk Jembatan Tayan, kontrak sudah kami lakukan dengan melakukan akses pelebaran jalan sepanjang 4 km. Selain itu juga di sekitar kawasan perbatasan, Kementerian PU juga sudah melakukan penanganan daerah di lintas utara yang menghubungkan jalan Kabupaten Bengkayang-Kabupaten Sanggau-Kabupaten Kapuas Hulu hingga ke Kaltim. Kesemuanya akan terealisasi di tahun 2012 ini,” paparnya.
Dikatakannya, sesuai pernyataan Bupati Kayong Utara Hildi Hamid, akan ada pembangunan pelabuhan di Kayong Utara yang menghubungkan beberapa kabupaten di Kalbar. Nantinya akan menjadi perhatian pemerintah pusat sebagai referensi Kementerian PU. Pelabuhan tersebut nantinya akan menjadi akses dibangunnya jalan yang menghubungkan Kabupaten Kayong Utara dengan kabupaten lainnya di Kalbar.
“Kami akan melakukan analisis terhadap pembukaan jalan yang menghubungkan jalan lintas selatan. Sehingga mempermudah akses dari Kabupaten Kayong ke daerah lainnya di Kalbar,” ungkap Hermanto.
sumber : harian rakyat kalbar

Jembatan Box Girder

JEMBATAN BOX GIRDER
Jembatan box girder adalah sebuah jembatan dimana struktur atas jembatan terdiri dari balok-balok penopang utama yang berbentuk kotak berongga. Box girder biasanya terdiri dari elemen beton pratekan, baja structural, atay komposit baja dan beton bertulang. Bentuk penampang dari box girder umumnya adalah persegi atau trapezium dan dapat direncanakan terdiri atas 1 sel atau banyak sel.
 banyak sel girder
Salah satu keuntungan dari jembatan box girder yaitu ketahanan torsi yang lebih baik, yang sangat bermanfaat untuk aplikasi jembatan yang melengkung. Tinggi elemen box girder dapat dibuat constant maupun bervariasi, makin ke tengah makin kecil.
tinggi box
Jembatan box girder beton umumnya dipadukan dengan system prategang. Konsep prategang adalah memberikan gaya tarik awal pada tendon sebagai tulangan tariknya serta memberikan momen perlawanan dari eksentrisitas yang ada sehingga selalu tercipta tegangan total negative baik serat atas maupun bawah yang besarnya selalu dibawah kapasitas tekan beton. Struktur akan selalu bersifat elastic karena beton tidak pernah mencapai tegangan tarik dan tendon tak pernah mencapai titik plastisnya.
tendon
Metode pelaksanaan jembatan box girder juga kompleks dan bervariatif tergantung dari keadaan tanahnya, jenis tendon pratekannya apakah internal prestressing atau external prestressing, tergantung juga lekatan kabel dengan beton apakah bonded ataukah unbounded, pengaturan bentangan jembatan apakah menerus atau bentang sederhana, tinggi elemen box girder apakah bervariasi atau constant serta proses pelaksanaan di lapangan apakah cor ditempat atau pracetak.
Metode pelaksanaan yang umum digunakan adalah metode konvensional dengan perancah, balance cantilever, atau kombinasinya, dan incremental launching.
MFI-22

konvensional menggunakan falsework
incremental_launching_photo_290
incremental erection
cantilever
cantilever 
Abutmen/ Kepala Jembatan
Bangunan bawah jembatan yang terletak pada kedua ujung jembatan yang berfungsi memikul reaksi beban pada ujung jembatan dan dapat juga berfungsi sebagai dinding penahan tanah.
abutmen
Pilar
Perencanaan pilon merupakan hal yang sangat penting dan mendasar yang akan mempengaruhi estetika, keekonomisan serta perilaku struktur dari jembatan. Pilon akan menerima gaya dari gelagar. Secara prinsip pemakaian beton pada pilon mempunyai dasar yang kuat mengingat akan mengalami gaya tekan yang besar.
Pilar untuk jembatan box girder beton akan menerima gaya yang besar akibat bentang jembatan yang besar serta berat box girder itu sendiri. Penampang pilar dapat dibuat massif ataupun berongga.
maket-fo-casablanca-4
http://www.sudirman-casablanca.com/galeri%20foto/var/albums/AGUSTUS-2011/Portal%20%2038%20%20%20..JPG
Gelagar
Bentuk penampang dari box girder umumnya adalah persegi atau trapezium dan dapat direncanakan terdiri atas 1 sel atau banyak sel
maket-fo-casablanca-12
Lock Up Device
Fungsi dari lock up device adalah untuk memberikan suatu hubungan yang kaku (rigid link) antara dek jembatan dengan abutmrn atau pilar jembatan, sehingga pada akibat beban yang cepat dangan durasi yang pendek seperti gempa, tabrakan, rem, gaya tersebut akan disalurkan ke perletakan. Akibat beban yang terjadi perlahan-lahan seperti suhu, susut dan rangkak, maka tidak terjadi hubungan kaku sehingga tidak terjadi penyaluran gaya.
lock up device
Modular Expansion Joint
Sebagaimana umumnya jembatan bentang panjang, pergerakan pada dek jembatan akan selalu terjadi dan harus diakomodasi dengan baik. Untuk mengakomodasi pergerakan yang relative besar tersebut. Umumnya digunakan expansion joint tipe modular. Gambar dibawah menyajikan tipikal Expansion Joint tipe modular yang umum digunakan.
expansion joint
Mechanical Bearing
Sebagaimana umumnya jembatan bentang panjang, gaya-gaya pada perletakan akan memiliki magnitude yang besar. Untuk itu tipe perletakan yang digunakan pada jembatan bentang panjang adalah perletakan yang mempunyai kemampuan menahan gaya yang besar. Tipe perletakan mekanik seperti pot bearing dan spherical bearing umum digunakan pada jembatan bentang panjang.
mechanical bearing

pot bearing



Infrastruktur Jembatan

Jembatan merupakan bangunan yang membentangi sungai, jalan, saluran air, jurang dan lain sebagainya untuk menghubungkan kedua tepi yang dibentangi itu agar orang dan kendaraan dapat menyeberang.

Secara umum, jembatan mempunyai struktur atas, bangunan bawah dan pondasi. Bangunan atas memikul beban lalulintas kendaraan yang bergerak diatasnya. Beban tersebut disalurkan ke kepala jembatan yang harus didukung pula oleh pondasi. Dalam kasus tertentu dengan bentang yang panjang dibutuhkan pilar yang mendukung beban yang terletak diantara ujung / kepala jembatan.

Struktur jembatan terdiri dari struktur atas, struktur bawah dan pondasi. Didalam pemilihan tipe maupun ukuran dari struktur jembatan tersebut dipengaruhi oleh beberapa aspek antara lain :
- Aspek Lalu Lintas
- Aspek Geometri
- Aspek Tanah
- Aspek Hidrologi
- Aspek Perkerasan
- Aspek Konstruksi

Struktur jembatan dapat berfungsi dengan baik untuk suatu lokasi tertentu apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

Kekuatan dan stabilitas struktural
- Tingkat pelayanan
- Keawetan
- Kemudahan pelaksanaan
- Ekonomis
- Keindahan estetika

ASPEK LALU LINTAS

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan jembatan ditinjau dari segi lalu lintas yang meliputi antara lain :

Kebutuhan Lajur
- Nilai konversi kendaraan
- Klasifikasi menurut kelas jalan
- Lalu lintas harian rata-rata
- Volume lalu lintas
- Kapasitas jalan
- Derajat kejenuhan

Kebutuhan Lajur
Lebar lajur adalah bagian jalan yang direncanakan khusus untuk lajur kendaraan, jalur belok, lajur tanjakan, lajur percepatan / perlambatan dan atau lajur parkir.Lebar lajur tidak boleh dari lebar lajur pada jalan pendekat untuk tipe dan kelas jalan yang relevan. Berdasarkan TCPGJKA 1997 Bina Marga, lebar lajur untuk berbagai klasifikasi perencanaan sesuai tabel berikut ini :




Nilai Konversi Kendaraan
Nilai konversi merupakan koefisien yang digunakan untuk mengekivalensi berbagai jenis kendaraan ke dalam satuan mobil penumpang (smp) dimana detail nilai smp dapat dilihat pada buku MKJI No.036/T/BM/1997. Nilai konversi dari berbagai jenis kendaraan dilampirkan seperti pada tabel di bawah ini.





Klasifikasi Menurut Kelas Jalan
Jalan dibagi dalam kelas-kelas yang penetapannya didasarkan pada kemampuan jalan untuk menerima beban lalu lintas yang dinyatakan dalam muatan sumbu terberat (MST) dalam satuan Ton. Dalam “Tata Cara Perencanaan Geometrik untuk Jalan Antar Kota tahun 1997”, klasifikasi dan fungsi jalan dibedakan seperti pada tabel berikut :



Lalu Lintas Harian Rata-rata
Lalu Lintas Harian rata-rata adalah jumlah kendaraan yang melewati satu titik dalam satu ruas dengan pengamatan selama satu tahun dibagi 365 hari. Besarnya LHR akan digunakan sebagai dasar perencanaan jalan dan evaluasi lalu lintas pada masa yang akan datang. Untuk memprediksi volume LHR pada tahun rencana, digunakan persamaan regresi.



Volume Lalu Lintas
Volume lalu lintas adalah banyaknya kendaraan yang melintas di suatu titik pada suatu ruas jalan dengan interval waktu tertentu yang dinyatakan dalam satuan mobil penumpang (smp). Dalam perencanaan, digunakan perhitungan volume puncak yang dinyatakan dalam volume per jam perencanaan. Perhitungan volume lalu lintas digunakan rumus berdasarkan MKJI No. 036/T/BM/1997.


Kapasitas Jalan
Kapasitas jalan didefinisikan sebagai arus maksimum yang dapat dipertahankan per satuan jam yang melewati suatu titik pada suatu ruas jalan dalam kondisi yang ada. Besarnya kapasitas jalan menurut MKJI 1997 :







Untuk jalan terbagi dan jalan satu-arah, faktor penyesuaian kapasitas untuk pemisahan arah tidak dapat diterapkan dan bernilai 1,0.






Derajat Kejenuhan ( Degree of Saturation)
Derajat kejenuhan didefinisikan sebagai ratio arus lalu lintas terhadap kapasitas jalan, digunakan sebagai faktor kunci dalam penentuan perilaku lalu lintas pada suatu simpang dan segmen jalan. Nilai derajat kejenuhan akan menunjukkan apakah segmen jalan itu akan mempunyai suatu masalah dalam kapasitas atau tidak.

Besarnya nilai derajat kejenuhan ditunjukkan pada rumus berikut :


Nilai DS tidak boleh melebihi angka satu, karena jika nilai DS lebih dari satu maka akan terjadi masalah yang serius karena pada jam puncak rencana arus lalu lintas yang ada akan melebihi nilai kapasitas jalan dalam menampung arus lalu lintas. Nilai DS yang paling ideal adalah dibawah angka 0,75 (MKJI 1997 hal 6-25)

ASPEK GEOMETRI
Dalam perencanaan jalan raya bentuk geometri jalan harus ditentukan sedemikian rupa sehingga jalan yang bersangkutan dapat memberikan pelayanan yang optimal pada lalu lintas sesuai dengan fungsinya. Untuk itu perlu diperhatikan batasan-batasan yang telah ditetapkan Bina Marga.

Perencanaan geometri dapat dibedakan dalam dua tahap :

Alinyemen Horisontal
Alinyemen horisontal merupakan proyeksi sumbu tegak lurus bidang horisontal yang terdiri dari susunan garis lurus dan garis lengkung. Perencanaan geometri pada bagian lengkung diperhatikan karena bagian ini dimaksudkan untuk mengimbangi gaya sentrifugal yang diterima kendaraan pada saat melewati tikungan dan gaya tersebut cenderung melempar kendaraan ke arah luar.

Pada bagian lurus dan lengkungan biasanya disisipkan lengkung peralihan, yang berfungsi untuk mengantisipasi perubahan alinyemen dari bentuk lurus sampai ke bagian lengkungan sehingga gaya sentrifugal yang bekerja pada kendaraan saat berada di tikungan berubah secara berangsur-angsur.

Alinyemen Vertikal
Alinyemen vertikal terdiri atas bagian landai vertikal dan bagian lengkung vertikal. Ditinjau dari titik awal perencanaan, bagian landai vertikal dapat berupa landai positif (tanjakan), landai negatif (turunan) atau landai nol (datar).Bagian lengkung vertikal dapat berupa lengkung cekung atau lengkung cembung.

ASPEK TANAH
Data tanah digunakan untuk menganalisa kemampuan daya dukung tanah terhadap beban yang bekerja dan penentuan jenis pondasi yang sesuai dengan kebutuhan.
Tinjauan Terhadap Daya Dukung Tanah

Dalam perencanaan pondasi, besaran tanah yang harus diperhitungkan adalah daya dukung tanah dan letak lapisan tanah keras. Daya dukung tanah yang telah dihitung harus lebih besar dari beban ultimate yang telah dihitung.

Tinjauan Terhadap Stabilitas Abutment
Data tanah yang dibutuhkan berupa sudut geser, kohesi, berat jenis tanah yang bekerja pada abutment dan daya dukung tanah yang merupakan reaksi tanah dalam penyaluran beban dari abutment. Gaya berat tanah ditentukan dengan menghitung volume tanah diatas abutment dikalikan dengan berat jenis tanah dari data soil properties.

ASPEK HIDROLOGI
Aspek hidrologi diperlukan dalam menentukan banjir rencana sehingga akan diketahui tinggi muka air banjir melalui bentuk penampang yang telah ada. Tinggi muka air banjir ini akan mempengaruhi terhadap tinggi jembatan yang akan direncanakan.

Curah Hujan Rencana
Dalam hal ini digunakan metode yang tepat dalam menghitung curah hujan rencana dengan periode ulang tertentu. Perhitungan hujan rencana ini digunakan Metode Gumble.

Debit Banjir Rencana
Debit rencana dihitung dengan formula Rational Mononobe :


Koefisien run off merupakan perbandingan antar jumlah limpasan dengan jumlah curah hujan. Besar kecilnya nilai koefisien limpasan ini dipengaruhi oleh kondisi topografi dan perbedaan penggunaan tanah.

ASPEK KONSTRUKSI
Aspek konstruksi berkaitan dengan pemilihan jenis struktur yang akan digunakan yang didasarkan pada beban yang bekerja, jenis dan kondisi tanah dan sebagainya.

Beban Struktur Jembatan
Dalam perencanaan struktur jembatan beban dan gaya harus diperhatikan untuk perhitungan tegangan yang terjadi pada setiap bagian jembatan yaitu :

1. Beban Primer,
Beban primer merupakan beban utama dalam perhitungan tegangan pada setiap perencanaan jembatan.Yang termasuk beban primer adalah :

a. Beban Mati,
Beban mati adalah semua beban yang berasal dari berat sendiri jembatan termasuk segala unsur tambahan yang dianggap merupakan satu kesatuan.
b. Beban Hidup,
Beban hidup jembatan yaitu beban ”T” yang merupakan beban terpusat untuk lantai kendaraan dan beban ”D” yang merupakan beban jalur untuk gelagar.

2. Beban Sekunder
Beban sekunder merupakan beban sementara yang selalu diperhitungkan dalam setiap perencanaan jembatan.Yang termasuk beban sekunder adalah :

a. Beban angin,
Pengaruh beban angin sebesar 150 kg/m² pada jembatan ditinjau berdasarkan bekerjanya beban angin horisontal terbagi rata pada bidang vertikal jembatan. Bidang vertikal beban hidup ditetapkan sebagai suatu permukaan bidang vertikal yang mempunyai tinggi menerus sebesar 2 ( dua ) meter di atas lantai kendaraan.

b. Gaya Akibat Perbedaan Suhu,
Gaya akibat perbedaan suhu antara bagian jembatan baik yang menggunakan bahan yang sama maupun dengan bahan yang berbeda. Perbedaan suhu ditetapkan sesuai dengan data perkembangan suhu setempat.

c. Gaya Akibat Rangkak dan Susut,
Pengaruh rangkak dan susut bahan beton terhadap konstruksi, harus ditinjau. Besarnya pengaruh tersebut apabila tidak ada ketentuan lain, dapat dianggap senilai dengan gaya yang timbul akibat turunnya suhu sebesar 15C.

d. Gaya Rem dan Traksi,
Pengaruh ini diperhitungkan senilai dengan pengaruh gaya rem sebesar 5% dari beban ”D” tanpa koefisien kejut yang memenuhi semua jalur lalu lintas yang ada, dan dalam satu jurusan. Gaya rem tersebut dianggap bekerja horisontal dalam arah sumbu jembatan dengan titik tangkap setinggi 1,80 meter di atas permukaan lantai kendaraan.

e. Gaya Akibat Gempa Bumi,
Pengaruh gempa bumi pada jembatan dihitung senilai dengan pengaruh gaya horisontal pada konstruksi akibat beban mati konstruksi dan perlu ditinjau pula gaya–gaya lain yang berpengaruh seperti gaya gesek pada perletakan, tekanan hidrodinamik akibat gempa, tekanan tanah akibat gempa.

f. Gaya Gesekan Pada Tumpuan–Tumpuan Bergerak,
Gaya gesek yang timbul ditinjau hanya akibat beban mati saja sedang besarnya ditentukan berdasarkan koefisien gesek pada tumpuan.

3. Beban Khusus
Beban khusus adalah beban yang merupakan beban–beban khusus untuk perhitungan tegangan pada perencanaan jembatan.

Yang termasuk beban khusus adalah :

- Gaya Sentrifugal
Konstruksi jembatan yang ada pada tikungan harus diperhitungkan terhadap suatu gaya horisontal radial yang dianggap bekerja pada tinggi 1,80 meter di atas lantai kendaraan. Gaya horisontal tersebut dinyatakan dalam prosen terhadap beban ”D” yang dianggap ada pada semua jalur lalu lintas tanpa dikalikan koefisien kejut.

Besarnya prosentase tersebut dapat ditentukan dengan rumus :


- Gaya dan Beban Selama Pelaksanaan
Besarnya dihitung sesuai dengan cara pelaksanaan pekerjaan yang digunakan.

- Gaya Aliran Air dan Tumbukan Benda Hanyutan
Gaya tekanan aliran air adalah hasil perkalian tekanan air dengan luas bidang pengaruh pada suatu pilar, yang dihitung dengan rumus :



Stuktur Atas ( Upper Structure)

Struktur atas secara umum terdiri dari :

a. Gelagar induk atau memanjang merupakan komponen jembatan yang letaknya melintang arah jembatan atau tegak lurus arah aliran sungai.
b. Gelagar melintang merupakan komponen jembatan yang letaknya melintang arah jembatan.
c. Lantai jembatan berfungsi sebagai penahan lapisan perkerasan yang menahan beban langsung lalu lintas yang melewati jembatan itu.
d. Perletakan adalah penumpu abutment yang berfungsi menyalurkan semua beban jembatan ke abutment menerus ke pondasi.
e. Pelat injak berfungsi menghubungkan jalan dan jembatan sehingga tidak terjadi perubahan ketinggian yang terlalu mencolok pada keduanya.

Struktur Bawah (Sub Structure)

Abutment
Abutment merupakan bangunan yang berfungsi untuk mendukung bangunan atas dan juga sebagai dinding penahan tanah. Bentuk abutment dapat berupa abutment tipe T terbalik yang dibuat dari beton bertulang.
Abutment dilengkapi dengan konstruksi sayap atau wing wall yang berfungsi untuk menahan tanah dalam arah tegak lurus as jembatan ( penahan tanah ke samping ).

Pondasi
Perencanaan pondasi ditinjau dari pembebanan vertikal dan horisontal dimana daya dukung tanah telah dihitung harus lebih besar dari beban ultimate. Berdasarkan data tanah dapat dilihat lapisan tanah keras pada lapisan dalam sehingga digunakan pondasi dalam yaitu pondasi tiang pancang.

Daya Dukung Tiang Pancang

Perhitungan pembagian tekanan pada kelompok tiang pancang yang menerima beban normal eksentris :


Penurunan Tiang Pancang
Perhitungan penurunan tiang pancang, tegangan pada tanah akibat berat bangunan dan muatannya dapat diperhitungkan merata pada kedalaman 2/3 Lp dan disebarkan 30˚.

Struktur Pelengkap
Sarana pelengkap sangat berguna untuk menunjang bangunan pokok agar dapat berfungsi dengan baik.

Sedangkan bangunan pelengkap tersebut sebagai berikut :
a. Railling, Railling jembatan berfungsi sebagai pagar pengaman bagi para pemakai jalan.
b. Saluran drainase, Saluran ini untuk mengalirkan air dari lapisan perkerasan jalan ke luar jembatan.
c. Oprit, Merupakan jalan pelengkap untuk masuk ke jembatan dengan kondisi disesuaikan agar mampu memberikan keamanan saat peralihan dari ruas jalan menuju jembatan.
d. Trotoar, Trotoar ini berfungsi sebagai tempat berjalan bagi para pejalan kaki yang melewati jembatan agar tidak terganggu lalu lintas kendaraan.

ASPEK PERKERASAN

Unsur-unsur yang terdapat dalam perencanaan tebal perkerasan supaya tercapai hasil yang optimal adalah :
a. Unsur beban lalu lintas
b. Unsur perkerasan
c. Unsur tanah keras

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, pada perencanaan perkerasan Jembatan Lumeneng dipilih tipe perkerasan lentur (fleksible pavement).

Untuk menentukan tebal perkerasan digunakan perhitungan-perhitungan sebagai berikut:
ITP = a1 x D1 + a2 x D2 + a3 x D3
LEP = C x LHR awal x E
LEA = C x LHR akhir x E
LET = 0,5 (LEA + LEP )
LER = LET x ( UR/10 ) = LET x FP

dimana :
ITP = Indeks Tebal Perkersan
a1, a2, a3 = koefisien kekuatan relatif bahan
D1, D2, D3 = tebal minimum masing-masing jenis perkerasan
C = koefisien kontribusi kendaraan
LHR awal = lalu lintas harian rata-rata pada umur rencana
E = angka ekivalen untuk setiap jenis kendaraan
LHR akhir = lalu lintaas hariaan rata-rata pada akhir umur rencana
UR = umur rencana
FP = faktor penyesuaian

Lapisan-lapisan yang terdapat pada metode perkerasan lentur adalah :

Tanah dasar
Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat-sifat daya dukung tanah dasarnya (CBR tanah asli atau CBR desain)
a. Perubahan bentuk tetap akibat beban lalu lintas.
b. Sifat kembang susut tanah tertentu akibat perubahan kadar air
c. Daya dukung tanah yang tidak merata dan sukar ditentukan secara pasti pada daerah dengan macam tanah yang sangat berbeda sifat dan kedudukannya.
d. Lendutan selama dan setelah pembebanan lalu lintas dari tanah tersebut.
e. Tambahan pemadatan akibat pembebanan lalu lintas dan penurunan yang diakibatkannya, yaitu pada tanah berbutir kasar (granular soil) yang tidak dipadatkan secara baik pada pelaksanaan.

Lapisan pondasi bawah
Konstruksi lapis pondasi bawah direncanakan dengan kriteria sebagai berikut :
a. Bagian perkerasan untuk mendukung dan menyebarkan beban roda.
b. Mencari efisiensi penggunaan material yang relatif murah.
c. Untuk mencegah tanah dasar masuk ke dalam lapisan pondasi.
d. Sebagai lapis pertama. Tipe tanah setempat (CBR>20 %, PI<10>

Lapisan Pondasi

Fungsi lapis pondasi antara lain :
a. Sebagai bagian dari perkerasan yang menahan beban roda.
b. Sebagai perletakan terhadap lapis perkerasan.
c. Bahan lapis pondasi harus kuat dan awet sehingga dapat menahan beban roda.

Lapis permukaan

Fungsi lapis permukaan antara lain :
a. Sebagai bahan perkerasan untuk menahan beban roda.
b. Sebagai lapisan rapat air.
c. Sebagai lapis aus atau wearing course.

Elastomeric Bearing Pads

Elastomeric Bearing Pads (Elastomer Perletakan Jembatan) 
dengan material karet alam terbukti elastomer bearing pads dapat memberikan keunggulan sebagai perletakan elastomer jembatan pada konstruksi jembatan.Elastomeric Bearing Pads sangat dibutuhkan dalam sebuah proses pembangunan jembatan sebagai penunjang beban vertikal dan gesekan beban jembatan.
Elastomeric Bearing Pads Jembatan

Elastomeric Bearing Pads sangat mudah penginstalan pada abutmen jembatan,mudah dalam pemeliharaan.
Elastomeric Bearing Pads dengan plat pada bagian dalamnya memungkinkan Bantalan Jembatan menahan beban jembatan dan menambah kekakuan pada Elastomeric Bearing Pads,lapisan karet pada plat yang tervulkanisat akan melindungi plat dari keadaan korosi.


Elastomeric Bearing Pads

Gada Bina Usaha sebagai Pioneer On Line Shop untuk produk Elastomeric Bearing Pads telah mengirimkan ke berbagai wilayah di Indonesia cek klien kami.
Elastomeric Bearing Pads Ready 

untuk kebutuhan Elastomeric Bearing Pads anda 
Kontak Kami 
Gada Bina Usaha