Bangunan Tahan Gempa Jadi Keharusan Paska Bencana 11 Maret


(Tokyo-Jepang) 
Paska bencana gempa, dan tsunami yang melanda wilayah Timur Jepang, struktur anti gempa pada bangunan menjadi poin penjualan terbaik, karena gedung yang dilengkapi dengan struktur itu terbukti aman, dan menjadi tempat berlindung bagi para pengungsi, juga perusahaan dapat terus melanjutkan kerja.
"Bangunan tidak bergerak banyak, dan ini membantu para pasien merasa nyaman," ujar juru bicara Aizu Chuo Hospital, yang berlokasi di kota Aizuwakamatsu, Prefektur Fukushima.


Ada sekitar 1,000 pasien dan staf di Aizu Chuo Hospital saat terjadinya gempa berkekuatan 9,1 skala richter. Bangunan rumah sakit berlantai tujuh yang dilengkapin struktur anti gempa hanya bergoyang sedikit, dan sejumlah pemeriksaan medis dapat berlanjut tanpa gangguan.
Pada bangunan yang dilengkapi struktur anti gempa, landasan isolasi dilapisi sejumlah lapisan karet, yang bersesuaian dengan pondasi gedung, dan menjadi penahan dari guncangan gempa. Namun akibatnya, biaya konstruksinya lebih mahal antara 10 sampai 20 persen dibanding yang biasa.
Perusahaan lain menikmati manfaat dari struktur bangunan anti gempa yakni Mori Trust Co, perusahaan real estat berkantor pusat di Tokyo, yang mengelola Sendai MT Building berlantai 18 di kota Sendai, Prefektur Miyagi.
Sendai MT Building juga dilengkapi struktur isolasi pondasi, dan tetap berdiri tegak meski guncangan gempa mencapai 9,1 skala richter, dan bahkan menjadi tempat penampungan sementara bagi warga yang tidak bisa kembali ke rumah paska terjadinya gempa.
Perusahaan, dan penyewa berdatangan untuk menyewa ruangan setelah terjadinya gempa, dan saat ini tingkat sewa ruang naik sekitar 20 persen, dan sebagian besar ruangan sudah terisi.
"Sangat mengesankan karena kami masih bisa bekerja meski gempa berlangsung," ujar pejabat Mori Trust.
Suzuden Corp, yang berkantor pusat di Tokyo, distributor perlengkapan industri dan memiliki pusat distribusi di kota Matsudo, Prefektur Chiba, juga membuat pondasinya dengan menggunakan struktur isolasi.
Menurut juru bicara Suzuden, tidak ada produk yang rusak atau jatuh akibat gempa, meski guncangannya mencapai 9 skala richter.
Meski sejumlah pihak di Suzuden awalnya menentang perlunya menggunakan struktur anti gempa, karena biayanya lebih mahal, namun pihak direksi menyetujui untuk berinvestasi pada teknologi pondasi guna meminimalisir kerusakan, bahkan bilamana terjadi guncangan gempa yang besar.
Paska terjadinya gempa, beberapa perusahaan kostruksi melaporkan adanya kenaikan permintaan untuk isolasi pondasi pada gedung, dan apartemen.
Salah satu perusahaan yakni Taisei Corp, menyatakan permintaan isolasi pondasi (seismic rubber) naik tiga kali lipat dibanding tingkat sebelum terjadinya gempa, dan semakin banyak yang menanyakan kemungkinan memasang teknologi isolasi pondasi, meski harganya lebih mahal.
Naiknya permintaan juga dialami Kashima Corp. Kebanyakan konsumen meminta agar diterapkannya struktur anti gempa pada pabrik, dan gedung yang saat ini sedang dalam pembangunan tahap awal.
Pada awal bulan Juli, di kawasan pemukiman yang jaraknya sekitar 10 menit berjalan kaki dari stasiun Urawa, Saitama, terlihat papan pengumuman "Unit Contoh dibuka, Hanya tersisa dua unit apartemen."
Papan pengumuman itu menjelaskan tentang Branchera Urawa, apartemen 18 lantai berisi 69 unit yang dibangun Haseko Corp. Rata-rata harga jual apartemennya sekitar 65 juta yen, sedikit lebih mahal dibanding harga pasaran di wilayah itu, namun poin penjualan gedung itu yakni dilengkapi struktur anti gempa.
Gedung dengan struktur anti gempa dibangun dengan struktur yang diperkuat, sehingga mengurangi getaran saat berlangsungnya gempa. Branchera Urawa mendapatkan peringkat "anti gempa kelas 2" berdasarkan sistem indikasi kinerja pemukiman yang ditetapkan pemerintah.
Peringkat itu menunjukkan, bangunan Branchera Urawa lebih kuat 1,25 kali dibanding rata-rata gedung apartemen, dan sama tingkatannya dengan tempat penampungan yang ditunjuk pemerintah daerah.
Sebelum terjadinya gempa 11 Maret, Haseko Corp lumayan sukar menjual satu unit per bulan, namun antara bulan April sampai Juni berhasil terjual sebanyak delapan unit.
"Sebelum terjadinya gempa, saya fokus hanya pada lokasi, dan harga, namun gempa membuat saya berpikir pentingnya keamanan, dan keselamatan. Jadi tidak keberatan bila harganya sedikit lebih mahal," ujar salah seorang pembeli wanita yang berusia sekitar 40 tahunan.
Sementara Nomura Real Estate Development Co, yang menjual apartemen "Proud City Inage Kaigan," sebanyak 555 unit, di kawasan Mihama, Prefektur Chiba dengan harga jual rata-rata per unit 29 juta yen.
Sejak bulan Mei, Nomura telah menjual 267 unit, dan tiap unit apartemen terjual pada hari diiklankan. Meski gedung apartemen berlokasi didekat pantai yang merupakan daerah beresiko.
"Setelah gempa, kebutuhan konsumen kami berubah," ujar agen penjualan Nomura.
Proud City Inage Kaigan dilengkapi fasilitas seperti sumur darurat, dan ruang penyimpanan makanan, dan air.
Salah seorang pembeli yang berusia 40 tahun menyatakan, "Saya tidak akan membeli bila tidak ada penjelasan rinci mengenai fasilitas pencegahan bencana."
Menurut Tokyo Kantei Co, perusahaan penilai real estat, dari sekitar 19,074 unit apartemen yang dilaporkan terjual di daerah Tokyo antara periode Januari-Juni, mengalami penurunan 9,8 persen. Sementara untuk daerah Kinki, penjualan turun 26.9 persen menjadi 7,390 unit.
Seiring dengan turunnya sentimen konsumen, paska terjadinya gempa, maka bangunan dengan fasilitas pencegahan bencana kini semakin populer.
Tanaka Yukio, penilai real estat di Nippon Tochi-Tatemono Co, menyatakan, "kemampuan gedung dalam mengantisipasi bencana besar kini menjadi salah satu faktor yang melandasi konsumen untuk membeli."