Jenis Expantion Joint (Siar Muai)

Jenis Expansion Joint :
Siar muai / Expansion Joint terbuka (sambungan yang paling sederhana)
Siar muai / Expansion Joint yang kedap air
Siar muai / Expansion Joint yang kedap air dan tertanam

Expantion Joint Berdasarkan besarnya pergerakan:


Small movement range joints < 45mm (http://a.imagehost.org/0544/SMRJ.jpg )
Medium movement range joints 45mm – 130mm (http://a.imagehost.org/0968/MMRJ.jpg )
Large movement range joints > 45mm (http://c.imagehost.org/0030/LMRJ.jpg )

pemilihan tipe sambungan siar muai tergantung pada analisis deformasi translasi akibat rangkak/susut beton, suhu, dan pelaksanaan konstruksi.

Manajemen Lalu Lintas,Simpang Susun / Flyover System


Untuk meningkatkan kelancaran serta untuk mengatasi pertumbuhan lalu lintas yang tinggi diperlukan solusi untuk memperlancar persimpangan. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah dengan membangun simpang susun sehingga dapat meningkatkan kapasitas persimpangan
Simpang susun di Los Angeles, California, Amerika Serikat.
Simpang susun adalah persimpangan tidak sebidang di mana dapat dilakukan perpindahan dari satu kaki persimpangan ke kaki lainnya melalui akses yang terhubung tidak sebidang, seperti di Cawang interchange Jakarta. Merupakan persimpangan yang biasanya diterapkan pada jalan bebas hambatan di mana konflik silang dihindari.
Bentuk simpang susun

Beberapa bentuk simpang susun dikembangkan diantaranya bertumpuk, merupakan simpang susun yang kompleks di mana tidak ada konflik silang; Jembatan Semanggi, merupakan salah satu simpang susun pertama yang dikembangkan di Indonesia; Simpang ketupat, di mana sebagian konflik masih terjadi secara sebidang; Separuh semanggi atau seperempat semanggi atau disebut juga simpang susun terompet.


Interchange


Simpang susun 4 lapis

Jembatan semanggi
Merupakan simpang susun yang kompleks dimana pengendara tidak akan bertemu dengan konflik silang. Interchange membutuhkan lahan yang cukup luas untuk mengakomodasi rampa serta biaya konstruksi yang tinggi.



Bertumpuk

Merupakan silang susun bertumpuk atau disebut juga sebagai Stack Interchange yang bisa mencapai 4 susun. yang merupakan simpang alternatif dari jembatan semanggi, lebih sempurna sehingga kapasitasnya bisa lebih tinggi, tetapi karena harus dibangun lebih dari dua susun biaya konstruksinya menjadi lebih tinggi.


Jembatan semanggi

Jembatan Semanggi adalah suatu simpang susun yang dibangun di era pemerintahan Presiden Soekarno. Jembatan ini disebut Jembatan Semanggi karena dibangun di kawasan Karet Semanggi, Setiabudi, akan tetapi banyak juga yang mengatakan karena bentuknya yang seperti daun Semanggi maka istilah Jembatan Semanggi digunakan. Jembatan semanggi ini merupakan salah satu simpang susun pertama yang dibangun di Indonesia. Alternatip lain dari simpang susun seperti ini adalah separoh semanggi yang diterapkan pada suatu simpang tiga.

Simpang ketupat


Suatu simpang ketupat
Simpang ketupat yang dikenal juga sebagai diamond interchange merupakan persimpangan antara jalan utama dengan dengan jalan minor, dimana jalan utamanya bebas hambatan dipisah pada bidang yang berbeda, sedang hubungan dengan jalan minor terjadi pada persimpangan sebidang, yang biasanya dikendalikan dengan lampu lalu lintas. Pada simpang ketupat ini biasanya masih ditemukan konflik yang cukup besar, sehingga kapasitasnya lebih rendah dari simpang susun tumpuk ataupun jembatan semanggi. Simpang ketupat biasanya dibangun pada lokasi yang sempit ataupun pada jalan toll dimana lintas utamanya mempunyai konflik yang lebih kecil dibanding dengan jalan minornya. Untuk meningkatkan keselamatan dan menurunkan biaya konstruksi[2], pada bagian yang ada konfliknya pada jalan minornya perlu dipasang lampu lintas.

Simpang susun sederhana

Flyover

Bentuk simpang susun yang paling sederhana adalah flyover atau disebut juga sebagai jembatan layang, yang dimaksudkan untuk menghilangkan konflik yang berpotongan langsung, ataupun untuk melewati suatu kawasan yang kumuh. Fly over banyak dibangun untuk menghindari persilangan sebidang dengan lintas kereta api ataupun persilangan dengan jalan toll.

Underpass

Selain Flyover juga dapat dibangun underpass atau terowongan yang fungsinya sama seperti flyover. Banyak dibangun di Jakarta untuk meningkatkan kapasitas perlintasan serta mengurangi angka kecelakaan khususnya pada persilangan dengan Kereta api.

http://id.wikibooks.org

Gempa Jepang Robohkan Jembatan Saitama

Ada informasi bahwa  jembatan roboh di Saitama dan prefektur Iwata, sementara kementerian perindustrian belum menerima laporan ada yang tidak beres di pembangkit listrik tenaga nuklir di area yang diguncang gempa bumi dengan kekuatan 8.4.




Daerah pemukiman banjir dan mobil-mobil, kapal dan tangki penyimpanan dihanyutkan oleh tsunami menyusul gempa bumi yang mengguncang daerah di prefektur Miyagi dan area lain di timur laut Jepang.
Cuplikan TV menunjukkan gempa memicu tsunami menyebabkan sungai Natori meluap di titik dekat muara dan air sungai merendam sejumlah rumah dan bangunan di wilayah sekitar sungai.

Polisi mengatakan, kira-kira 20 kendaraan mengapung di laut lepas Kamaishi, prefektur Iwata, di Pasifik.

Bandara Narita, salah satu pintu gerbang tersibuk Jepang di timur Tokyo, ditutup dan para penumpang dan pengunjung dievakuasi dari bangunan. Bandara Haneda tidak menggunakan dua dari empat landasan pacunya.

Belum ada laporan  mengenai kereta cepat shinkansen tergelincir, yang dioperasikan oleh East Japan Railway Co. di daerah timur laut Tohoku.
http://www.krjogja.com

Jembatan Cable Stayed Modern

Ir. Rony Ardiansyah, MT.
Dosen Teknik sipil UIR
 Jembatan Cable Stayed adalah suatu sistem dan jenis jembatan yang paling populer khususnya di Porpinsi Riau. Mulai dari Jembatan Barelang di Batam. Proyek Jembatan Cable Stayed Siak Sri Indrapura yang menelan biaya sebesar 159,75 miliar, berlokasi di Kabupaten Siak, hampir rampung dibangun pada saat ini. Kemudian Jembatan cable Stayed Siak IV, yang konon bisa menelan biaya sampai Rp. 185 miliar ini diharapkan mampu membuka daerah yang terisolasi dan bukan saja untuk mengantisipasi perkembangan kota ke arah utara (Rumbai) atau untuk mendukung rencana pengembangan pendidikan dan olahraga di Kawasan Payung Sekaki Rumbai, tapi adalah juga untuk landmark-nya kota plus upaya penanganan jangka panjang persoalan lalu lintas di Pekanbaru nantinya.

Bukan hanya di Riau, di Propinsi Tetangga pun tak mau ketinggalan. Baru-baru ini Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan merencanakan membangun Jembatan Musi III yang menurut rencana berlokasi di Pasar Kuto, Jalan Slamet Riadi Palembang akan segera terealisasi. Berdasarkan usulan dari Dinas PU Bina Marga Sumsel biaya kontruksi Musi III ini bakal menghabiskan dana sebesar Rp 325 miliar. Jembatan Musi III dengan type cable stayed bridge akan memiliki panjang total sekitar 1.550 meter, panjang total jembatan cable stayed sekita 400 meter, bentang utama 250 meter, tinggi ruang bebas 15 meter dari permukaan air pasang, lebar ruang bebas 200 meter.
            Sebenarnya, jembatan cable stayed sudah dikenal sejak lebih dari 200 tahun yang lalu (Walther, dalamSupryadi, 2000: 197-207) yang pada awalnya era tersebut umumnya dibangun dengan mengunakan kabel vertikal dan miring seperti ’Dryburgh Abbey Footbridge’ di Skotlandia yang dibangun pada tahun 1817. Jembatan seperti ini masih merupakan kombinasi dari jembatan cable stayed modern. Sejak saat itu jembtan cable stayed banyak mengalami perkembangan dan mempunyai bentuk yang bervariasi baik dari segi jenis material yang digunakan maupun segi estetika.
            Pada umumnya jembatan cable stayed menggunakan gelagar baja, rangka beton, atau beton pratekan sebagai gelagar utama (Zarkasi dan Rosliansyah, 1955). Pemilihan bahan gelagar tergantung pada ketersediaan bahan, metode pelaksanaan dan harga konstruksi. Penilaian parameter tersebut tidak hanya tergantung pada perhitungan semata melainkan masalah ekonomi dan estetika lebih dominan. Kecenderungan sekarang adalah menggunakan gelagar beton, cast in situ atau prefabricated (pre cast).
            Pada dasarnya komponen utama jembatan cable stayed terdiri dari atas gelagar, sistem kabel, dan menara atau pylon. Sistem kabel merupakan salah satu hal mendasar dalam perencanaan jembatan cable stayed. Kabel digunakan untuk menopang gelagar di antara dua tumpuan dan memindahkan beban tersebut ke menara. Secara umum sistem kabel dapat dilihat sebagai tatanan kabel transversal dan tatanan kabel longitudinal. Pemilihan tatanan kabel tersebut didasarkan atas berbagai hal karena akan memberikan pengaruh yang berlainan terhadap prilaku strukstur terutama pada bentuk menara dan tampang gelagar.
Selain itu akan berpengaruh pula pada metode pelaksanaan, biaya dan arsitektur jembatan. Sebagian besar struktur yang sudah dibangun terdiri atas dua bidang kabel dan diangkerkan pada sisi-sisi gelagar (Walther, 1988). Namun ada beberapa yang hanya menggunakan satu bidang. Penggunaan tiga bidang atau lebih mungkin dapat dipikirkan untuk jembatan yang sangat lebar agar dimensi balok melintang dapat diperkecil.
Pemilihan bentuk menara sangat dipengaruhi oleh konfigurasi kabel, estetika, dan kebutuhan perencanaan serta pertimbangan biaya. Bentuk-bentuk menara dapat berupa rangka portal trapezoidal, menara kembar, menara ’A’, atau menara tunggal. Selain bentuk menara yang telah disebutkan, masih banyak bentuk menara lain namun jarang digunakan seperti menara ’Y’, menara ’V’ dan lain sebagainya.
Bentuk gelagar jembatan cable stayed sangat bervariasi namun yang paling sering digunakan ada dua yaitu stiffening truss dan solid web (Podoiny and Scalzi, 1976). Stiffening truss digunakan untuk struktur baja dan solid web digunakan untuk struktur baja atau beton, baik beton bertulang maupun beton prategang. Pada awal perkembangan jembatan cable stayed modern, stiffening truss mulai banyak digunakan tetapi sekarang sudah mulai ditinggalkan dan jarang digunakan. Kekurangannya adalah membutuhkan fabrikasi yang besar, perwatan yang relatif sulit, dan kurang menarik dari segi estetika. Meskipun demikian dapat digunakan sebagai gelagar dengan alasan memiliki sifat aerodinamika yang baik.
Perkembangan teknologi beton yang sangat cepat membuat baja mulai ditinggalkan dan beralih ke gelagar beton yang dapat berupa beton precast atau cetak setempat. Gelagar beton umumnya berupa gelagar box tunggal yang diberi pengaku lateral pada jarak tertentu. Solid web yang terbuat dari beton precast mempunyai banyak keuntungan, antara lain; struktur dek beton cenderung untuk tidak bergetar dan dapat berbentuk aerodinamis yang menguntungkan, komponen gaya horizontal pada kabel akan mengaktifkan gaya tekan pada sistem dek dimana beton sangat cocok untuk menahan gaya desak, beton mempunyai berat yang sangat besar sehingga perbandingan beban hidup dan beban mati menjadi kecil dan beban mati tidak membesar, dan pemeliharaan yang lebih mudah karena beton tidak berkarat seperti baja.