Be Your Self,Stop Copying

 Beberapa penulis buku kepribadian mengatakan bahwa untuk memiliki kepribadian, Anda harus dinamis, mempelajari suatu ketrampilan, mengikuti berbagai kegiatan sosial, atau berbicara tentang pengalaman Anda yang menghebohkan. Saya setuju dengan semua itu. Tetapi saya melihat hal itu masih sangat superficial, masih kulitnya saja. Pendekatan tentang kepribadian tersebut hanya sampai pada permukaannya saja.


Untuk menjadi seorang yang berkepribadian dan mempunyai kualitas seorang pribadi, Anda harus bisa menjadi diri Anda sendiri yang sesungguhnya. Anda harus mengembangkan kekuatan keyakinan Anda sendiri; dan berhenti membandingkan-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, apalagi mengikuti pendapat orang lain. Pada umumnya, kita selalu menetapkan contoh mengenai apa yang kita anggap sebagai orang sukses, untuk kemudian kita mencoba meniru mereka. Benar, Anda memang bisa belajar dari orang lain, tetapi meniru mereka jarang sekali membawa seseorang menjadi sukses. Sukses adalah sebuah konsep yang sepenuhnya bersifat pribadi.
Anda tidak perlu mendapatkan persetujuan ataupun pengakuan dari orang lain untuk menjadi diri sendiri. Ingatlah: “Anda adalah Anda”. Anda tidak perlu memakai “topeng” untuk menunjukkan siapa diri Anda sebenarnya. Kemukakan dengan berani, adalah hak Anda untuk menjadi seorang individu yang mandiri. Buatlah diri Anda merasa nyaman dengan konsep mental – citra diri Anda sendiri; dan bukalah kunci pintu menuju citra diri yang lebih baik dan selalu berkembang secara positif. Berhentilah “melihat orang lain” dan “lihatlah diri Anda sendiri”.
Marilah saya tunjukkan Anda ke sebuah alat ajaib yang Anda miliki, yaitu “imajinasi kreatif” Anda. Cobalah Anda duduk di sebuah tempat sunyi, sehingga Anda bisa berkonsentrasi pada latihan membuka “topeng diri” ini dan menjadi diri Anda sendiri. Anda akan menjadi diri sendiri, tanpa penyamaran dan kepura-puraan. Tenangkanlah pikiran Anda, buanglah kekhawatiran Anda – rileks sajalah.
Sekarang gunakan imajinasi Anda untuk memproyeksikan Anda ke masa depan. Tetapkan sasaran tujuan diri Anda sendiri, yang hasil akhirnya akan membuat Anda bahagia. Bayangkan langkah-langkah yang akan Anda ambil. Bayangkan dalam pikiran Anda situasi yang hendak Anda masuki; lihatlah hal itu dengan senyata-nyatanya, kongkrit dan detil.
Selama bergerak menuju sasaran ini, Anda selalu mengambil langkah-langkah cerdik, hebat; namun kadang-kadang Anda gagal, jatuh juga. Inilah maksud pokok dari latihan tersebut. Sementara Anda melakukan penggambaran mental yang mulai terbentuk di dalam pikiran; terimalah kesalahan dan kelemahan Anda, disamping juga kehebatan dan kekuatan cara-cara Anda yang menghasilkan kesuksesan. Untuk bisa bersikap realistis terhadap diri Anda, dan memiliki kemampuan untuk menjadi diri sendiri; Anda harus bisa menerima kegagalan dan kelemahan Anda, kemudian memeriksanya untuk bekal menuju suatu perbaikan dan peningkatan kualitas citra diri Anda sendiri.
Memang benar sasaran tujuan Anda adalah perbaikan dan peningkatan kualitas diri sendiri; bukan dorongan untuk membuat suatu kesalahan. Tetapi maksud saya, Anda harus punya suatu landasan berpikir, jika seandainya yang Anda lakukan gagal. Harus ada dukungan pemikiran seperti itu, untuk memberi dukungan kalau ada sesuatu yang tidak beres menimpa Anda. Jika Anda tidak punya dukungan seperti itu, maka Anda terpaksa memakai “topeng” – berpura-pura.
Di dalam rumah-rumahan pikiran Anda, bayangkanlah sasaran tujuan Anda dan bergeraklah menuju sasaran itu langkah demi langkah. Bayangkan juga seandainya Anda salah melangkah dan gagal; lihat dan rasakan rasa kecewa dan malu yang diakibatkannya. Tetapi lihat juga diri Anda bisa menerima kekurangsempurnaan diri Anda, bisa menerima kelemahan dan kegagalan Anda; menghayatinya dan memberi diri Anda pengertian, bahwa Anda memerlukannya juga. Kalau Anda bisa hidup bersama kesalahan Anda, maka Anda tidak perlu bersembunyi di balik “topeng kehidupan”. Jadilah diri Anda sendiri dengan kualitas pribadi yang Anda inginkan. Jangan mencoba meniru-niru orang lain.
Kalau Anda bisa menjadi diri sendiri dengan semua kelemahan manusiawi Anda; Anda akan jauh lebih baik daripada seseorang yang terpaksa memakai “topeng” untuk bertahan terhadap tekanan kehidupan modern sekarang ini. Memang dalam keadaan tertentu, kita harus menyembunyikan perasaan kita sesungguhnya. Kadang-kadang “topeng” melindungi kita dari komentar yang mencela diri kita. Kadang-kadang kita memang harus menutupi-nutupi siapa sebenarnya kita, pada saat-saat tertentu. Berpura-pura memang boleh saja menurut saya, tetapi itu bersifat temporary, dan tidak menetap pada diri kita. Sifat kepura-puraan itu tidak akan menjadi satu bagian kepribadian kita, hanya sementara; di suatu saat saja dimana kondisi kita mengharuskan untuk bersikap pura-pura.
Sebuah contoh, misalnya saja Anda berada di suatu acara pesta; kemudian Anda melihat diantara para undangan yang hadir, ada seorang tamu mengenakan gaun pesta, yang menurut Anda “sangat norak, katrok – kampungan”; apakah Anda akan dengan jujur terbuka mengatakannya secara langsung ke orang tersebut? Tentu tidak bukan, karena jika Anda melakukannya, Anda bisa merusak suasana pesta itu. Akibatnya justru tidak akan mengenakan Anda sendiri. Nah – disinilah “topeng” perlu Anda pakai, karena kalau tidak, dampaknya akan jelek buat Anda.
Biarpun begitu, yang menjadi masalah saat ini adalah; banyak orang memakai “topeng” pada saat yang sebenarnya tidak perlu. Ini kebiasaan kelewat batas, dan akan mengakibatkan hambatan, kegelisahan, kekalutan sehingga berpotensi melemahkan citra diri seseorang. Jadi, sebenarnya Anda mempunyai banyak kesempatan untuk menyatakan kepribadian Anda yang unik dan menjadi diri Anda sendiri. Saat ini terlalu banyak orang yang gagal memanfaatkan kesempatan ini untuk pertumbuhan dan pengembangan dirinya, dan lebih senang menenggelamkan kepribadiannya sendiri.
Kita di dalam hidup ini sudah terlalu banyak memakai “topeng”. Saya sering melihat orang yang berpura-pura tenang, padahal sebenarnya dia dalam kekalutan masalah. Ada juga seorang wanita yang sebenarnya genit, tetapi memakai “topeng cuek” dan tidak peduli dengan laki-laki; menyembunyikan keinginannya untuk digoda. Memakai “topeng” juga akan mengisolasi diri kita dari kontak dengan jutaan orang, yang menyukai kejujuran; sebuah hal yang semakin langka saat ini. Berhentilah berpura-pura dalam hidup Anda. Lepas dan buanglah “topeng mental” Anda. Jadilah diri sendiri yang berkecukupan, sukses; dan bahagialah dengan diri Anda sebagaimana yang Anda inginkan. Jadilah diri Anda sendiri.
Be Yourself....!


Share