Selasa, 14 Desember 2010

Awas, harga karet masih akan berfluktuasi

JAKARTA. Fluktuasi harga karet dunia masih berlanjut. Bahkan, harga karet dunia masih 
menunjukkan tren menanjak. Perbaikan tingkat tenaga kerja yang mengindikasikan 
perbaikan ekonomi menjadi spekulasi pendorong kenaikan harga karet ini.


Suplai karet alam dari Thailand sebagai produsen karet alam terbesar di dunia, 
dan suplai dari beberapa negara di Asia menipis setelah hujan dan banjir 
menerjang tanaman karet. Selain itu, Pasar karet juga disokong oleh membaiknya 
data ekonomi Amerika Serikat. "Secara fundamental masih positif selama masalah cuaca 
yang menghambat pasokan bisa diatasi," ujar Kazuhiko Saito, analis Fujitomo Co 
seperti dikutip Bloomberg Kamis (25/11).

Menurut catatan International Rubber Consortium, tahun ini, La Nina yang menyebabkan 
hujan berkepanjangan melanda Australia dan negara-negara di Asia termasuk Indonesia, 
Thailand dan Malaysia. Indonesia, Thailand, dan Malaysia adalah pemasok 70% produksi 
karet alam dunia.

Minimnya pasokan dari ketiga produsen utama ini membuat produksi karet dunia 
hingga akhir 2010 diperkirakan hanya 2,36 juta ton. Ini lebih sedikit dibandingkan kebutuhan 
yang mencapai 2,46 juta ton. Akibatnya, dunia akan mengalami kekurangan pasokan. 
Kekurangan ini diperkirakan akan ditambal dari cadangan karet yang sampai akhir tahun 
diperkirakan mencapai 3,67 juta ton. Tentu hal ini membikin stok menipis, karena permintaan 
China juga terus naik.

Kenaikan harga karet dunia ini rupanya berpengaruh pada kenaikan harga karet di Indonesia.
 Berdasarkan data dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) 
Kementerian Perdagangan, harga spot karet di Palembang saat ini berada di level 
Rp 38.674 per kg. 
Padahal, awal tahun lalu harga karet domesti masih ada di harga Rp 25.657 per kg.

Ketua Dewan Karet Nasional Azis Pane mengatakan fluktuasi haga karet dunia saat ini 
memang 
di luar dugaan. Jika melihat siklusnya, Azis bilang seharusnya harga karet alam mulai 
melandai karena permintaan untuk stok dari berbagai negara sudah selesai. Tapi, 
akibat panen karet di India dan Thailand banyak yang tidak bisa diangkut akibat banjir 
yang belanda sebagian besar wilayah.

"Kalaupun bisa diangkut, kualitasnya rendah karena kadar airnya tinggi," kata Azis. 
Sehingga,
 India harus mengimpor karet untuk memenuhi permintaan karet di dalam negerinya. 
Akibat permintaan ini, maka harga karet dunia terdongkrak naik. Bahkan, harga karet 
domestik ikut terdongkrak, padahal para produsen ban sudah melakukan pembelian 
untuk stok karet tiga bulan ke depan.

Asal tahu saja, berdasarkan data dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi 
(Bappebti) Kementerian Perdagangan, harga spot karet di Palembang saat ini berada di level 
Rp 38.674 per kg. Padahal, awal tahun lalu harga karet domesti masih ada di harga 
Rp 25.657 per kg. "Harga karet di Indonesia ikut naik karena stok karet yang bisa diproduksi 
hanya ada di Indonesia," jelas Azis kepada KONTAN Kamis (24/11).

Sebenarnya, kata Azis tipisnya pasokan karet alam dunia memberikan dampak positif 
terhadap ekspor karet Indonesia. "Ekspor karet tahun ini kemungkinan akan melebihi 
target yang ditetapkan," jelas Azis. Awalnya, ekspor karet tahun ini diperkirakan mencapai 
US$ 6 miliar, tapi melihat permintaan karet yang cukup tinggi sementara pasokan dari 
negara lain menurun maka ekspor karet Indonesia diperkirakan akan mencapai 
US$ 7,2 miliar hingga akhir tahun nanti.

Meski masih memiliki peluang untuk kembali naik, tapi ruang kenaikan harga karet domestik 
sudah terbatas. "Di kuartal I tahun 2011 saya yakin harga karet alam tidak akan banyak naik, 
tapi harga karet sintetis yang akan naik tinggi," kata Azis.

Hanya saja, Azis mengingatkan pemerintah agar mengawasi perdagangan karet 
di beberapawilayah yang berbatasan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan 
Brunei Darussalam seperti Jambi, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Sebab, 
"Bisa jadi karet asal Indonesia diselundupkan ke negara lain dan dijual dengan harga 
yang lebih tinggi," ungkapnya.

Source  :