Estimasi Biaya Jembatan Selat Sunda kini Rp 250 T Anak Krakatau Munculkan Kendala Baru

AKARTA. Konsorsium pengembangan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang dibentuk Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) terus merampungkan tugasnya. Rencana pembangunan proyek prestisius itu kini masih dalam taraf pengkajian Detailed Engeneering Design (DED) yang didalamnya termasuk mengetahui karakter geografis Selat Sunda. Hal itu diperlukan mengingat pembangunan jembatan tersebut menggunakan konstruksi suspensi.
"Konstruksi itu jelas berbeda dengan jembatan Suramadu yang menggunakan konstruksi kabel style. Yang ini lebih rumit," ujar Wakil Menteri PU Ahmad Hermanto Dardak di Jakarta kemarin (14/11).
Hermanto mengatakan, kelebihan konstruksi suspensi adalah ketinggian jembatan diperkirakan mencapai 80 meter di atas permukaan air laut. Sehingga pengkajian aspek teknis di laut, tingkat keamanan dan rute mana yang paling tepat digunakan berdasarkan kondisi geografis bawah laut mutlak diperlukan.
"Karena itu perlu juga mempelajari kecepatan angin, kondisi palung paling kecil dan besar. Termasuk pertimbangan dengan pulau-pulau terdekat, sehingga bisa menentukan titik jembatan yang paling tepat." Ujar pria yang juga menjabat Ketua Harian Tim Nasional Persiapan Pembangunan Jembatan Selat Sunda itu.
Menurut rencana awal, pembangunan JSS akan dimulai pada 2014. Peraturan presiden terkait dengan rencana pembangungannya segera diterbitkan akhir tahun ini, untuk mendukung proyek yang akan dilaksanakan pada 2012. Pasalnya, proyek tersebut merupakan skala yang strategis dan besar, sehingga diperlukan payung khusus untuk mendukung pengerjaannya.
Dalam perpres sebelumnya, tercantum tentang pembentukan tiga kelompok kerja itu untuk mengkaji tiga hal. Pertama, kelayakan teknis seperti kondisi geografis, ketahanan terhadap gempa. Kedua, mengkaji tata ruang dan potensi peningkatan perekonomian dengan adanya jembatan itu, dan ketiga, mempelajari kondisi dan pengaruh pembangunan jembatan itu terhadap kondisi sosial dan kultural masyarakat.
Direktur Pengembangan Kerjasama Pemerintah dan Swasta, Bappenas Bastari Panji Indra mengatakan bahwa rencana pembangunan JSS diperkirakan membutuhkan investasi sebesar Rp 250 triliun. Jumlah itu naik dari estimasi awal Rp150 triliun. "Besarnya investasi yang dibutuhkan terkait dengan tingkat kesulitan. Bisa dilihat dari studi kalayakannya yang membutuhkan dana hingga Rp 1,5 triliun." kata dia.
Dana sebesar itu memang sesuai dengan tingkat kesulitan pembangunan JSS. Untuk keperleuan survei bawah laut saja membutuhkan teknologi yang canggih yang tidak dimiliki pemrintah Indonesia. Termasuk, memperhitungkan kelayakannya karena keberadaan Gunung Anak Krakatau yang sangat mungkin mengganggu konstruksi. Alternatifnya, JSS nantinya memiliki bentangan sepanjang 2,2 kilometer yang tidak mempunyai struktur penyangga. Selain mempersiapkan studi kelayakan, Bastari mengatakan sedang disiapkan peraturan pendukung. "Legal dasar peraturannya juga mesti disiapkan," katanya.
Selain jalan, JSS nantinya juga akan dilengkapi jalur kereta dan pipa gas. Karena itu, kata dia, proyek ini membutuhkan persiapan yang matang. Hingga kini pemerintah masih terus mempelajari mekanisme dan nilai proyek JSS dengan lebih detail dan efisien. Terutama terkait kajian bahwa anak Krakatau berpotensi aktif lagi seperti sejumlah gunung berapi lain di Indonesia. (zul/jpnn)